Mengintip Ragam Penyelaman Unik di Pemuteran, Bali

Pura bawah laut, taman bermain para dewa, transplantasi karang dengan kesuksesan tertinggi di dunia dan bagaimana wisata selam benar-benar membuat semarak desa kecil di ujung Bali: Adalah sederet ragam keunikan penyelaman di Pemuteran. Bersiaplah untuk berimajinasi.

Kita mungkin tidak menyelam bersama Manta rays atau Mola-Mola seperti penyelaman di Nusa Penida, tetapi perairan tenang Pemuteran memiliki keunikannya sendiri. Meskipun terletak diujung Barat pulau Bali dan memakan waktu tempuh yang panjang, keindahan bawah laut Pemuteran Bay sepadan dengan pengorbanan waktu tempuhnya. 

Beragam titik selam nan unik menanti, taman bermain para dewa, biowreck - konservasi karang, dan proyek biorock Pemuteran. Diving di Pemuteran masih asing bagi sebagian penyelam baru Indonesia. Tapi bagi pemain lama, Pemuteran menjadi destinasi favorit untuk proyek biorock dan photograper dengan lensa wide. Pemuteran identik dengan proyek biorock, proyek konservasi dan rehabilitasi terumbu karang dengan teknologi elektrolisis akresi mineral, lalu distimulasi listrik voltase rendah untuk mempercepat pertumbuhan karang. Dengan tingkat kesuksesan tertinggi di dunia, proyek biorock Pemuteran menjadi proyek percontohan di berbagai daerah di Indonesia bahkan manca negara. Biorock menjadi perhatian khusus warga Pemuteran yang sudah berlangsung selama kurang lebih 16 tahun di desa Pemuteran. Biorock di Pemuteran menjadi salah satu program biorock paling sukses di Indonesia. Kesuksesan ini diraih atas kerjasama dan dukungan yang baik dari pelaku konservasi dan warga sekitar dalam menjaga kelangsungan proyek biorock

Bio-Wreck, biorock dengan kombinasi Koral yang mengagumkan.

Jukung kami ditambatkan pada mooring tepat di atas salah satu biorock berbentuk penyu. Di sebelahnya terdapat house reef dengan solar panel untuk mengaliri listrik ke struktur biorock di bawahnya. Kami turun mengikuti mooring ke kedalaman 10 meter untuk menuju ke 2 struktur biorock, Bio-boomer dan Bio-wreck. Seekor clear lionfish besar menunggu di dalam struktur biorock pertama berbentuk penyu, Bio-boomer. 

Untuk menuju ke bio-wreck kami harus mengitari boomies, hard coral berbentuk mirip gugusan batu raksasa. Di sekitaran boomies tersisa kerusakan akibat racun sianida dan penggunaan bom untuk menangkap ikan nelayan. Meskipun begitu, kerusakan sudah tertutup oleh tarian anggun koloni Xenia Elongata yang tersapu arus lembut. 

Beberapa Halgerda Nudibranch mudah ditemukan meskipun bersembunyi di antara Xenia Elongata, soft coral dengan tentakel dan polip di ujungnya. Mengitari boomies,  sepasang flatworm biru terlihat menempel di beberapa batuan. Dan sampailah kami di ujung lain boomies

Bio-wreck, struktur biorock berbentuk kapal yang dipenuhi soft coral seakan menjadi denyut nadi koral di titik selam Bio-Wreck. Mengagumkan! Decak saya dalam hati. Butuh waktu panjang untuk menumbuhkan kombinasi soft coral cantik di Bio-wreck dengan metode elektrolisasi mineral biorock. Beberapa soft coral dan hard coral saling tindih mencari ruang hidup di bagian atas struktur kapal bio-wreck. Table coral mini ikut muncul di atas kapal, menjadikannya tempat bermain ikan-ikan karang. Eunicella, plexaura dan dendronephthya merah menghiasi di kanan-kiri badan struktur kapal bio-wreck.
Biorock Pemuteran
Pink Painted Frogfish di kerangka bio-wreck

Underwater Temple / Pura Bawah Laut.

Dunia sempat dibuat geger saat berita tentang penemuan arkeolog atas pura bawah laut yang dibangun ribuan tahun lalu. Sempat diberitakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia akan melakukan investigasi atas penemuan arkeolog ini. Tapi berita tersebut telah lama diklarifikasi oleh sekumpulan penyelam lokal Pemuteran yang menginisiasi dalam menenggelamkan bangunan pura tersebut. 

Pura bawah laut adalah salah satu proyek lingkungan untuk melestarikan titik penyelaman di Pemuteran. Badan pura yang masih kokoh berdiri menjadi pintu masuk menjelajah ke area pura bawah laut dikedalaman 30 meter.  Jarak pandang rendah membuat tempat ini semakin dramatis bak menjelajah kembali ke peradaban kerajaan Hindu - Budha. 

Sayangnya bagian dalam underwater temple tidak semegah dan sekokoh pilar depannya. Beberapa bagian patung terlihat berserakan di dasar dan kepala patung Budha yang patah. Mungkin inilah saatnya underwater temple harus direstorasi. 

Meskipun begitu kumpulan patung di kedalaman 15 meter masih layak dinikmati. Soft coral yang tumbuh di sekitarnya menambah semarak kehidupan bawah laut titik selam underwater temple.
Chromodoris Kueni Nudibranch
Chromodoris Kunei, Nudibranch

Garden of the Gods, tempat bermain para dewa.

Dewa Shiwa duduk di atas penyu sebagai kendaraanya. Shiwa berkeliling laut sambil menyapa 8 dewa yang duduk di tiap arah mata angin. Sementara kota kecil bawah laut itu bergeliat saat dijelajahi para penyelam.

Itulah imajinasi saya saat turun ke kedalaman 23 meter, visibility sekitar 10-15 meter saat itu. Garden of the Gods diadaptasi dari Dewata Nawa Sangha, konsep Agama Hindu Dharma Bali. Bukan hanya sekedar patung dewa tanpa kehidupan. Nudibranch dan kawanan hewan makro mudah ditemukan di badan patung. Coral shrimp bersembunyi di balik buble coral yang tumbuh di salah satu patung.
Garden of the Gods Pemuteran
Garden of the Gods statue

Napoleon Reefs & Close Encounters, 

Sekumpulan batfish berbaris rapi membentuk formasi satu garis lurus menyambut kedatangan kami. Jarak pandang jauh membantu saya menikmati salah satu dive site dengan kombinasi koral dan macro life. Di balik keindahannya, titik selam ini menjadi saksi kebrutalan sianida dan penangkapan ikan dengan bom dimasa lalu.  Di sinilah penyelam bisa melihat bagaimana Napoleon Reefs dan Close Encounters berjuang pulih dari kerusakan. Menjadi jelilah saat menjelajah di Napoleon. Temukan orang utan crab yang merayap pada brain coral. Binatang-binatang makro mulai bermunculan saat kami menyentuh kedalaman 12 meter, dilanjut hingga ke 20 meter. 

Beruntunglah mata guide kami menangkap pseudoceros dimidiatus di antara pinnacle, green flatworm yang biasanya hanya ditemukan oleh para dive guide dengan pengelihatan binokular. Tidak lama setelahnya, guide kami mengeluarkan loop, terlihat seekor skeleton shrimp bergelantungan di salah satu hydrozoa. 

Ya, Pemuteran pun menjadi salah satu destinasi penyelaman makro terbaik di Bali Barat selain Secret Bay ataupun Puri Jati. Saat safety stop kami dimanjakan dengan pemandangan indah hamparan pinnacle di kedalaman 5 meter. Kami masih belum puas menjelajahi Napoleon. 

Keesokan paginya kami memutuskan untuk melakukan early morning dive di Close Encounters. Dengan topografi yang hampir sama dengan Napoleon Reefs, kami harus bangun untuk melawan arus. Ya, Close Encounters mengejutkan early morning dive kami dengan arus kencang yang datang. Arus selalu menjadi daya tarik bagi pelagic fish, tak heran kami menjumpai kawanan barracuda dan jack trevally

Sinar matahari lemah menerobos ke kedalaman 15 meter membawa sisa-sisa kehidupan malam di Close Encounters. Midnight snapper berenang melawan arus sama seperti kami. Sulit untuk mendapatkan gambar stabil karena arus kencang, kami mengabadikan kehidupan Close Encounters dengan video.
Ragam Penyelaman Unik di Pemuteran, Bali

Sejarah Panjang Pemuteran

Made Bunagsa,  penduduk asli Pemuteran menceritakan bagaimana ia menjadi saksi betapa menggeliatnya Pemuteran saat ini. Pemuteran merangkak maju hingga kini menempati posisi ke 7 atas Top 10 Lonely Planet Terbaik Asia 2016. 

Menjadi salah satu aktivis biorock Pemuteran bersama dengan komunitas Karang Lestari, Bunagsa mempertahankan semangat konservasi. Ia dan seluruh masyarakat Pemuteran menikmatinya. 

Bukan tanpa usaha untuk membuat diving di Pemuteran - Bali Barat kini dikenal dunia. Chris Brown, pria paruh baya dengan semangat konservasi yang selalu berkobar bercerita kepada saya tentang awal mula ia merasa Pemuteran memanggilnya. Chris mengedukasi masyarakat lokal mengenai dampak dari menangkap ikan dengan bom dan sianida. Lebih dari 25 tahun Chris ikut membantu Pemuteran berkembang melalui proyek-proyek lingkungan dan sosial atas inisiasinya. 

Lewat Reef Seen Divers Resort, ia ikut membangun Pemuteran. Bio-Wreck dan Bio-Boomer diinisiasi oleh Chris, bersama dengan staff Reef Seen Divers resort, yang terinspirasi dari proyek penyu yang ada di dalam area resort

Proyek Penyu Pemuteran adalah salah satu bentuk sukses edukasi Chris untuk warga lokal agar menjaga dan melindungi penyu di perairan Bali. Chris membentuk Reef Gardener, sekumpulan penyelam yang ditugaskan menjaga dan merawat dive site di area Pemuteran. Beragam tugas dikerjakan Reef Gardener seperti mengangkat crown of thorn dan siput drupella yang mematikan bagi karang yang ditumpanginya, dan juga memasang mooring untuk menambatkan perahu diving

Nyoman, nama Bali itu disematkan di depan nama Chris, Nyoman Christopher E. Brown, membuktikan betapa warga lokal menghargai jasa dan karya besar Chris untuk Pemuteran.
Dragonface Pipefish Pemuteran
Dragonface Pipefish

Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

0 comments :

Post a Comment