Menikmati kekayaan alam Indonesia dalam semangkuk Parende di Tomia.

Malam itu kami sudah merencanakan strategi untuk pergi ke pantai pagi-pagi buta. Kami harus datang ke pantai awal sekali karena yang dari gunung akan turun, yang dari darat akan mendekat, dan semua berkumpul di pantai mengincarnya, mengincar Meti.

Meti adalah aktifitas dimana masyarakat Tomia - Sulawesi Tenggara memungut ikan dan biota laut lain yang terdampar di pesisir pantai saat air pantai surut. Aktifitas favorite dan mendarah daging orang-orang pesisir pantai Wakatobi. Pagi itu setelah meti kami pulang dengan dua ember penuh hasil Meti. Ada bulu babi, belut laut, anemone, dan ikan-ikan pesisir. Dengan gesit bu Jannah membersihkan ikan hasil tangkapan untuk dimasak menjadi Parende, sup ikan khas Sulawesi Tenggara. Ini adalah kali kedua saya menyantap Perende, setelah kedatangan saya ke Wakatobi dua tahun lalu. Tomia adalah salah satu pulau di gugusan pulau yang dulunya dikenal dengan nama Tukang Besi. Parende akan mudah ditemui mulai dari Wakatobi, Baubau - Buton, hingga ke Kendari. Parende saya kali ini benar-benar membuka mata saya bahwa kita, Indonesia, kaya sekali.
Parende
Parende, Sup Ikan khas Sulawesi Tenggara.
Warna kuning pada parende berasal dari kunyit, rasa asamnya berasal dari belimbing wuluh. Bu Jannah bilang, kita bisa mengganti belimbing wuluh dengan asam jawa atau jeruk nipis. Bahan dasarnya sama seperti sup ikan lain, bawang putih, bawang merah, potongan cabai rawit dan cabai merah. Dipekarangan rumah bu Jannah sebatang pohon belimbing wuluh berdiri kokoh dan rimbun. Tak jarang tetangga datang untuk meminta sedikit dari banyaknya belimbing wuluh yang tumbuh. Parende adalah masakan andalan para ibu-ibu disini. Tidak jauh disebelahnya ada dua batang pohon cabe rawit, dari semarak warnanya terlihat pohon cabe itu siap panen.
Parende, Kasuami, Sayur daun kelor, dan ubi.
Siang itu kami mampir ke desa Wali untuk mengambil ikan hasil tangkapan orang tua bu Jannah. Hari itu, bubu orang tua bu Jannah menjaring seekor ikan pari. Bubu adalah alat tangkap ikan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Dibawah terik matahari Tomia, kami pergi ke kebun belakang rumah untuk memetik daun ubi dan bunga pepaya. Itu pertama kali saya memetik daun ubi dan daun pepaya. Ya Tuhan, orang kota macam saya inilah yang dibuat udik (kampungan) oleh bu Jannah karena baru pertama masuk kebun. Malu ketika bu Jannah bertanya, "baru pertamakah petik daun?". Daun pepaya dan daun ubi yang kami petik bisa untuk tiga kali masak, banyak sekali. Satu lagi ke-udik-an saya, kalau tidak kerumah bu Jannah, mungkin saya gak akan pernah makan sayur daun kelor seumur hidup. Saat pulang, kami dibekali ubi kayu untuk di parut. Parutan ubi kayu diolah untuk dijadikan Kasuami. Kasuami adalah makanan berbahan dasar ubi kayu yang diparut, lalu parutan ubi kayu diperas untuk dikeringkan. Parutan yang sudah diperas dikeringkan semalam, lalu keesokan harinya dikukus dalam wadah berbentuk kerucut.

Saya dibuat kagum oleh kecepatan bu Jannah memasak parende. Ternyata memasak parende tidak serumit yang saya bayangkan saat pertama menyantapnya pertama kali. Kekayaan alam hasil kebun dan hasil laut yang didapatkan tanpa harus membayar bisa menghidupi masyarakat setempat, Tomia. Ikan yang digunakan adalah ikan hasil meti, asam belimbing dan cabai rawit tinggal petik dipekarangan rumah, sayur pendamping macam sayur daun ubi, daun kelor dan bunga pepaya adalah hasil petik kebun belakang rumah. Mungkin hanya bawang yang harus "import" dari pulau sebelah atau pulau-pulau sekitar Tomia. Tak ada beras, ubi pun juara. Masyarakat setempat lebih suka kasuami dibanding nasi, walaupun nasi harus ada dalam menu sehari-hari. Hasil laut mempunyai protein yang tinggi yang dibutuhkan tubuh. Saat meti, bulu babi menjadi primadona karena gizinya yang tinggi dan rasanya yang gurih. Percaya atau tidak, cara memakannya adalah mengambil telurnya didalam cangkang yang sudah dibelah, dan langsung dimakan dengan nasi. Sedap, gurih, ekstrim dan menantang. Yang tak pernah ada dibayangan saya adalah anemone yang pun juga bisa dimakan. Alam Indonesia begitu baik menyediakan semua yang kita butuhkan.

Saya pulang ke Jakarta dengan sangat bangga karena sudah bisa menghidangkan parende dimeja makan rumah. Kalau kata ibu saya, "merem aja udah jadi". Selamat makan.

Resep Parende super simpel ala Anak Ayam Berjalan ;

  • 500ml air putih
  • 1/2 kg ikan tenggiri (paling enak pakai ini)
  • Tahu kuning (modifikasi sendiri biar makin banyak porsinya)
  • 2 sdt bubuk kunyit (sesuai selera)
  • 1 biji tomat
  • Jeruk nipis 2 biji (bisa pakai belimbing wuluh atau asam jawa)
  • 5 siung bawang putih, (dipotong atau digeprek lebih enak)
  • 3 siung bawang merah
  • 3 biji cabai merah
  • 7 biji cabai rawit (sesuai selera pedas)
  • 1 sdt garam & 1sdt gula (pengganti penyedap rasa)
Cara Memasak ;
  •  Masukan bawang dan cabai di air yang mendidih. 
  • Masukan ikan dan perasan jeruk nipis,
  • Masukan tomat dan tahu
Super gampang kan? Selamat mencoba, kalau kurang enak, berarti kamu butuh micin atau porsi kurang banyak. :P


*Didedikasikan untuk Vasadhine's family. Terimakasih untuk jamuannya yang baik. 
Keluarga bu Jannah(baju merah),

Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

4 comments :

  1. Thanks for share, Indonesia kaya raya, semua makanan sudah disediakan oleh alam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tugas kita setelah menikmatinya adalah melestarikan dan menjaga untuk bisa dinikmati dalam jangka lebih panjang.

      Delete
  2. Kuah ikan kuning di makan nya pake sinongi yang kayak papeda itu lho ... rasa nya pasti nikmat banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia, udah hunting 8 hari gak nemu di Kendari n Tomia karena katanya itu dibuat sesuai kebutuhan dan permintaan, om Cum. Sumpah ngidam dari 2 tahun masi belum kesampean. So itu seperti never ending hunting bagi ku. Haha.

      Delete